LBH Pers Mengecam Penangkapan Jurnalis Filipina Maria Ressa

Jurnalis Filipina yang juga CEO Rappler Maria Ressa ditangkap pada Rabu 13 Februari 2019 di kantor Rappler di Pasig City, Filipina atas tuduhan kasus kejahatan siber. Maria dijerat dengan menggunakan UU Kejahatan Siber karena artikel yang dipublikasikan Rappler pada 29 Mei 2012. Laporan berjudul Hakim Agung menggunakan kendaraan SUV milik pengusaha kontroversial (CJ using SUVs of controversial businessman) ditayangkan di situs Rappler sebelum Filipina mengesahkan UU Kejahatan Siber.

Atas hal tersebut LBH Pers bersikap:

1. Mengecam penangkapan Jurnalis Maria Ressa karena didasarkan pada karya jurnalistik yang dipublikasi oleh media Rappler. Bahwa sejatinya pekerjaan jurnalis adalah pekerjaan yang memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui dan penangkapan tersebut merupakan tindakan yang mencederai hak asasi manusia khususnya kebebasan pers dan hak atas informasi masyarakat.

2. Sebagai sesama masyarakat ASEAN, kami mendesak dan menagih kepatuhan Pemerintah Fillipina untuk menghormati hak asasi manusia dan kebebasan pers sebagaimana dalam piagam Deklarasasi Hak Asasi Manusia ASEAN Pasal 23 “Setiap orang mempunyai hak untuk menyatakan pendapat dan berekspresi, termasuk kebebasan untuk mempertahankan pendapat tanpa gangguan dan untuk mencari, menerima dan memberikan informasi, baik secara lisan, tulisan, atau melalui cara lain yang dipilih oleh orang tersebut”.

3. Menyampaikan solidaritas dan dukungan ke Maria Ressa, Rappler, dan rekan-rekan jurnalis yang tergabung dalam organisasi jurnalis the National Union of of the Philippines (NUJP)

4. Mendesak Pemerintah Indonesia dan AICHR Indonesia untuk menyatakan sikap dan mendesak Pemerintah Fillipina untuk mengutamakan peradilan yang adil dan terbuka juga menghormati kebebasan pers dan hak asasi manusia lainnya.

Jakarta, 14 Februari 2018
Lembaga Bantuan Hukum Pers

Narahubung;
Ade Wahyudin 085773238190

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: